Selamatkan Alam, Saatnya Semua Pihak Ambil Peran dalam Konservasi Sumber Daya Hayati Global

Purwokerto, 9 April 2026

Denmark dikenal sebagai negara beriklim sedang (temperate climate) yang memiliki empat musim yaitu semi, panas, gugur dan dingin dengan udara sejuk serta sedikit hujan. Kondisi ini membuat diversitas fauna disana relatif rendah. Berbeda dengan  rendah yang memiliki kekayaan hayati sangat tinggi. Kelimpahan ini menarik perhatian peneliti dari Denmark untuk datang dan mempelajarinya lebih mendalam.

Salah satunya Simon Bruslund, peneliti sekaligus conservationist dari Copenhagen Zoo, Denmark. Beliau memiliki ketertarikan dengan burung-burung yang ada di Indonesia dan melakukan upaya konservasi di beberapa wilayah seperti Dieng (Wonosobo), Gunung Slamet (Banyumas), hingga Baluran Jawa Timur. Selain itu juga menjalin kerjasama di wilayah Sumatera.

Pengalaman dan pengetahuan Simon Bruslund pada bidang konservasi dibagikan pada acara kuliah umum berjudul “Protecting global wildlife together – An introduction to applied conservation research by Copenhagen Zoo”, yang dilaksanakan hari Kamis, 9 April 2026 di Aula Fakultas Biologi. Dalam paparannya Simon menegaskan bahwa “Konservasi sumber daya hayati merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya tanggung jawab masyarakat lokal”. Ia juga menambahkan karena keterbatasan sumber daya hayati di Denmark, Copenhagen Zoo banyak bekerjasama dengan negara lain untuk menjaga biodiversitas bersama.

Kegiatan ini dibuka oleh dekan Fakultas Biologi Prof. Dr. Agus Nuryanto, M.Si dan diikuti oleh mahasiswa yang mengambil Mata Kuliah Biodiversitas dan Evolusi (S1 Biologi Terapan), Biologi Laut (S1 Biologi), Ekologi Mangrove (S1 Biologi), Ekologi Perairan (S2 Biologi), Biodiversitas Hewan Tropis (S2 Biologi), dan Manajemen Ekosistem (S2 Biologi). Namun mahasiswa lain juga dapat bergabung secara hybrid.

Dalam salah satu pengalamannya ketika melakukan upaya konservasi, Simon pernah menemukan burung endemik yang hanya dijumpai di Banyumas. Awalnya burung tersebut menjadi salah satu target perburuan, namun dengan pendekatan di komunitas/masyarakat setempat, perburuan berhasil dihentikan. Terkait dengan upaya konservasi, Copenhagen Zoo melakukan banyak kerja sama terkait  dengan beberapa negara, termasuk Indonesia. Selain burung, Simon dan tim juga melakukan banyak penelitian dan konservasi hewan lainnya. Project ini umumnya dilakukan berkolaborasi. Salah satunya adalah Leopard (macan tutul) dari Jawa. Hasilnya dimuat dalam buku penelitian. Dalam upaya konservasi Simon juga bekerja sama dengan alumni Fakultas Biologi Unsoed yaitu Hariyawan Agung Wahyudi dan Enggar Lestari yang juga melakukan proyek monitoring dengan lembaga Non Pemerintah (NGO), lembaga ini juga bekerjasama dengan Universitas Andalas dan Universitas Gadjah Mada.

Simon Bruslund dari Copenhagen Zoo bersama Jajaran Pimpinan Fakultas Biologi

admin

admin

Leave a Replay