B2A019004

Zahra Putri Aulia

Program Studi

Progres Studi Akhir
Progres Studi Akhir
S2 ‧ Seminar Hasil Penelitian
Tanggal Pelaksanaan/Penetapan
Tempat Pelaksanaan
Online
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi

Diversitas Tumbuhan dan Dinamika Iklim Kala Holosen Berdasarkan Data Palinomorf pada Daerah Adipala, Cilacap, Jawa Tengah

Abstrak

Perubahan iklim merupakan suatu sistem berkesinambungan yang selalu terjadi sejak awal terbentuknya bumi hingga sekarang. Keberadaan dari informasi perubahan iklim masa lampau dapat menjadi acuan penting dalam mempelajari variabilitas dan perubahan iklim baik di masa sekarang ataupun yang akan datang. Kehadiran fosil palinomorf pada suatu sedimen dapat digunakan untuk menentukan diversitas tumbuhan, yang kemudian dapat memberikan gambaran mengenai dinamika iklim suatu lingkungan. Penginterpretasian iklim masa lampau didasarkan oleh asumsi bahwa setiap perubahan iklim yang terjadi telah berdampak baik secara langsung maupun tidak kepada tumbuhan di sekitarnya, sehingga data paleodiversitas suatu tempat akan memberi gambaran terkait kondisi iklim. Selain itu, data paleodiversitas akan mengarahkan pada tumbuhan apa saja yang pernah tumbuh pada kawasan tersebut, sehingga kedepannya dapat digunakan sebagai dasar dalam upaya perbaikan kawasan baik konservasi maupun restorasi. Keberadaan data fosil pada kala Holosen sangat melimpah dan mengahadirkan kesempatan untuk para peneliti dalam memahami dinamika sistem bumi, termasuk salah satunya dinamika iklim di daerah Adipala, Cilacap. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi bagaimana diversitas, kondisi vegetasi, serta dinamika iklim pada kala Holosen di daerah Adipala, Cilacap berdasarkan data palinomorf. Peneliti menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara stratified random sampling. Data penelitian berupa hasil coring yang diambil di daerah Adipala, Cilacap, Jawa Tengah telah mengahsilkan sampel sedalam 5 m dengan total sampel sebanyak 50. Lokasi pengambilan sampel yang berupa persawahan dengan pemukiman dan ladang disekitarnya telah mendorong ke pernyataan bahwa lokasi ini merupakan pantai purba. Berdasarkan 50 sampel yang telah diindentifikasi ditemukan sebanyak 2171 butir polen dan spora yang termasuk kedalam 37 taksa dan tidak ditemukan palinomorf marine sama sekali. Penentuan diversitas tumbuhan didasarkan pada analisis menggunakan aplikasi SPADE. Hasil perhitungan Indeks Simpson menunjukan bahwa daerah penelitian memiliki tingkat keanekaragaman yang sangat tinggi (0,9156) dan dominansi yang sangat rendah (0,0844). Hal ini menunjukkan bahwa selama kala Holosen daerah penelitian memiliki kondisi ekosistem stabil dan tidak ada taksa yang mendominasi. Kestabilan merupakan hal yang sangat penting bagi keberlanjutan suatu ekosistem. Berdasarkan data seluruh sampel dapat dilihat ada variasi nilai dominansi dan keanekaragaman. Variasi nilai menandakan bahwa pada tiap lapisan sampel telah terjadi perubahan vegetasi yang dapat diakibatkan oleh berbagai macam faktor lingkungan seperti perubahan kondisi iklim. Selanjutnya taksa hasil identifikasi dikelompokan berdasarkan habitusnya guna meginterpretasikan dinamika iklim selama kala Holosen. Berdasarkan pengelompokan diketahui bahwa dari 37 taksa yang ditemukan 14 diantaranya adalah AP, 8 lainnya merupakan NAP, dan sisa 15 lainnya adalah kelompok spora. Setelah itu dihitung persentase dan dibuat grafik polen AP/NAP. Hasil perhitungan menujukan bahwa terdapat 4 zona perubahan vegetasi serta iklim selama kala Holosen, yaitu: Zona I (Sampel 1-8), persentase AP (47,88%) lebih rendah dibandingkan NAP (52,12%), ditandai oleh kemunculan Poaceae yang melimpah. Hal ini merupakan tanda bahwa terjadi perluasan daratan akibat penurunan muka laut sehingga terdapat banyak tumbuhan tak berkayu yang mengindikasikan kondisi iklim pada saat itu cenderung kering; Zona II (Sampel 9-28), AP mengalami kenaikan (65,72%) yang diikuti oleh penurunan NAP (34,28%). Kehadiran kelompok AP diwakili oleh dominasi dari Nypa fruticans, Sonneratia alba, serta Sonneratia caseolaris. Kemunculan taksa-taksa mangrove ini menunjukan bahwa telah terjadi perubahan bentang alam dari zona sebelumnya dan mencerminkan bahwa pada kala tersebut telah terjadi kenaikan muka laut yang disebabkan oleh kondisi iklim basah dan lembab; Zona III (Sampel 29-33) ditandai dengan menurunnya AP menjadi 46,53% dan peningkatan NAP menjadi 53,47%. Poaceae kembali mendominasi pada zona ini dan menandakan bahwa kelembaban pada lingkungan ini telah menjadi kering. Perubahan ini disebabkan karena kondisi iklim yang kembali menjadi kering dan membuat muka laut mengalami penurunan; Zona IV (Sampel 34-50), AP meningkat (66,26%) diwakili oleh kemunculan yang melimpah dari polen mangrove yaitu Sonneratia alba dan Nypa fruticans dan NAP menurun (33,74%). Hal ini mengindaksikan bahwa muka laut kembali mengalami kenaikan akibat kondisi iklim yang basah sehingga menimbulkan lingkungan yang lebih lembab dan banyak ditumbuhi oleh tumbuhan berkayu. Setelah itu vegetasi ditampilkan dalam bentuk diagram palinologi. Sebelumnya juga telah dilakukan pengelompokan vegetasi yang didasarkan dari kesamaan ekologi, dimana lingkungan pengendapan dibagi berdasarkan penyebaran fosil palinomorf. Berdasarkan hasil analisis diagram palinologi, diketahui telah terjadi 4 zona palinologi yaitu: Zona I (Sampel 1-8) yang terjadi penyusutan hutan mangrove dan diikuti oleh peningkatan kelompok fresh water swamp dan montane sehingga mengindikasikan adanya pengaruh lingkungan darat yang cukup besar; Zona 2 (Sampel 9-28), terjadi perkembangan hutan mangrove. Sedangkan untuk kelompok fresh water swamp menurun. Namun, rerata dari kelompok montane justru meningkat dari zona sebelumnya. Kehadirannya diperkirakan karena adanya transportasi butir polen oleh angin atau arus sungai. Hal ini dapat dilihat dari hadirnya taksa fresh water seperti Cyperaceae dalam jumlah yang cukup tinggi dan menandakan bahwa pernah terdapat sungai di sekitar lokasi pengambilan sampel; Zona 3 (Sampel 29-33), satu-satunya kelompok yang mengalami peningkatan rerata pada zona ini hanyalah fresh water swamp yang ditunjukan dengan kehadiran Poaceae pada tiap sampel dengan nilai yang sangat tinggi, Myrtaceae juga menunjukan perkembangan. Sedangkan untuk kelompok mangrove, sand beach, back mangrove, fresh water dan montane tetap hadir pada zona ini namun menunjukan penurunan; Zona 4 (34-50) ditunjukan dengan perkembangan hutan mangrove yang sangat pesat, namun terjadi penurunan vegetasi fresh water swamp, fresh water, dan montane secara signifikan dari zona sebelumnya. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa ekosistem utama yang berkembang di lokasi penelitian selama kala Holosen merupakan wilayah sekitar pantai, ditandai dengan munculnya fosil polen mangrove, sand beach, dan back mangrove hampir di seluruh sampel. Beberapa kali juga mengalami perluasan daratan akibat penurunan muka laut yang ditandai dengan kelimpahan Poaceae dan ditemukannya taksa montane dan fresh water. Seluruh perubahan ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan kondisi iklim selama kala itu. Perubahan iklim yang terjadi selama kala Holosen disebabkan oleh perubahan insolasi yang dipengaruhi siklus Milankovitch. Siklus ini merupakan siklus alam yang normal dan selalu terjadi setiap ratusan ribu tahun sekali. Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi ekologi pada kala Holosen di daerah penelitian cenderung stabil tanpa adanya dominasi dari taksa tertentu. Hal ini dapat dilihat dari nilai keanekaragaman yang tinggi yaitu 0,9156. Selanjutnya, telah terjadi fluktuasi dinamika iklim yang bervariasi, namun secara garis besar dapat dibagi menjadi 4 zona penting yaitu zona 1 ketika iklim menjadi kering, zona 2 iklim basah, zona 3 iklim kembali menjadi kering, dan zona terakhir adalah iklim basah. Perubahan iklim ini terjadi akibat fenomena alam yang diatur oleh siklus Milankovitch. Terakhir, telah terjadi 4 periode perubahan vegetasi di daerah penelitian. Namun secara umum, ekosistem utama yang berkembang di lokasi penelitian selama kala Holosen merupakan wilayah sekitar pantai, ditandai dengan munculnya fosil polen mangrove, sand beach, dan back mangrove hampir pada setiap sampel. Beberapa kali juga mengalami perluasan daratan akibat penurunan muka laut yang ditandai dengan kelimpahan Poaceae

Kata Kunci
Dinamika Iklim, Diversitas Tumbuhan, Palinomorf, Vegetasi.
Pembimbing/Promotor

Ruang Virtual Seminar Hasil Penelitain Tesis:

https://meet.google.com/ijh-vsue-kae