P3BA14004

Oetami Dwi Hajoeningtijas

Program Studi

Progres Studi Akhir
Progres Studi Akhir
S3 ‧ Ujian Tertutup
Tanggal Pelaksanaan/Penetapan
Tempat Pelaksanaan
Online
Judul Skripsi/Tesis/Disertasi

KAJIAN FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN FUNGI NON-SIMBIOTIK INDIGENOUS SERTA ASAM HUMAT-FULVAT PADA AKUMULASI Pb UMBI BAWANG MERAH (Allium cepa var. Ascalonicum) DI MEDIA TANAM TERCEMAR Pb

Abstrak

Berdasarkan hasil penelitian di sentra produksi bawang merah Brebes diperoleh informasi bahwa kandungan Pb di dalam tanah dan tanaman tinggi, melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Upaya untuk memulihkan lahan dengan metode yang ramah lingkungan perlu dilakukan untuk memperbaiki kualitas lingkungan dan produksi bawang merah. Bioremediasi menggunakan mikroba indigenous lahan tercemar potensial digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Beberapa hasil penelitian dan pustaka menyebutkan bahwa sebagai bioakumulator fungi lebih efektif daripada bakteri, dan termasuk ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendapatkan informasi tingkat cemaran Pb pada lahan pertanaman bawang merah di Kecamatan Larangan dan Wanasari Kabupaten Brebes; 2) mendapatkan informasi keanekaragaman Fungi Mikoriza Arbuskula (FMA) dan fungi non-simbiotik pada lahan pertanaman bawang merah tercemar Pb; 3) mendapatkan fungi non-simbiotik indigenous lahan pertanaman bawang merah tercemar Pb yang efektif pada uji secara in vitro; 4) mendapatkan konsorsium dan spora tunggal Fungi Mikoriza Arbuskula indigenous lahan pertanaman bawang merah tercemar Pb yang efektif secara in vivo pada akumulasi Pb umbi; 5) Mendapatkan fungi non-simbiotik indigenous lahan pertanaman bawang merah tercemar Pb dan asam humat-fulvat yang efektif pada akumulasi Pb umbi.

Sebelum dilakukan percobaan tahap pertama, dilakukan pengkarakteran lahan dan analisis kandungan Pb umbi bawang merah dengan sampel tanah dan tanaman dari 6 lahan bawang merah di 3 Desa di Kecamatan Wanasari yaitu, Desa Kupu, Desa Wanasari, dan Desa Sigentung, serta di Kecamatan Larangan yaitu, Desa Karangbale, Desa Slatri, dan Desa Larangan. Pengkarakteran lahan (analisis tanah) meliputi: kelas tanah, Ntotal (%),C-organik (%), bahan organik %), C/N ratio, P2O5total (%), K2O total (%), pH H2O, P2O5tersedia (ppm), KTK (me%), KB (%), Pb total (ppm), Ca (me%), Mg (me%), K (me%), Na (me%), pasir (%), debu (%), liat (%). Percobaan tahap pertama adalah melakukan isolasi dan identifikasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan fungi non-simbiotik indigenous rizosfer bawang merah tercemar logam berat Pb. Percobaan tahap kedua adalah menguji potensi propagul infektif dari rhizosfer bawang merah dengan tingkat kontaminasi logam berat yang berbeda. Pengujian dilakukan pada konsorsium dan spora tunggal Fungi Mikoriza Arbuskula secara in vivo dengan media bawang merah tercemar Pb, serta fungi non-simbiotik dengan media tercemar Pb secara in vitro. Percobaan tahap ketiga yaitu menguji interaksi fungi non-simbiotik dan asam humat-fulvat pada budidaya bawang merah media tercemar Pb.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kandungan logam berat Pb total tanah yang berada di Kecamatan Wanasari berkisar antara 17,10–20,68 ppm dan kandungan logam berat Pb total tanah di Kecamatan Larangan berkisar antara 21,11 –26,31 ppm. Sedangkan kandungan logam berat Pb dalam umbi bawang merah yang berada di Kecamatan Wanasari pada kisaran 1,54–3,43 ppm dan kandungan logam berat Pb dalam umbi bawang merah di Kecamatan Larangan berkisar antara 1,47– 2,53 ppm. pH lahan di Kecamatan Wanasari menunjukkan bahwa desa Kupu masam, desa Sigentung agak masam, dan desa Wanasari netral, sedangkan di Kecamatan Larangan pH tanah masam di Desa Karangbale dan agak masam di desa Slatri dan Desa Larangan. Penyerapan logam berat ke dalam tanah sangat dipengaruhi oleh pH tanah. KTK dan KB di Kecamatan Wanasari dan Kecamatan Larangan tinggi serta kandungan bahan organik dan nitrogen total dalam tanah di Kecamatan Wanasari dan Kecamatan Larangan sangat rendah. Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa kontribusi Pb tanah hanya 4% saja pada kandungan logam berat umbi, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain dengan nilai 96% (y = -0,0541x + 3,2641). 

Fungi Mikoriza Arbuskula yang berhasil diisolasi dan diidentifikasi ada 4 genus fungi yaitu Gigaspora, Glomus, Acaulospora, dan Scutellospora. Glomus ditemukan pada 16 lokasi dari 17 lokasi pengambilan sampel rizosfer. Pada uji spora tunggal pemberian spesies Glomus yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil bawang merah pada semua vaiabel pengamatan, kecuali pada jumlah daun pada 35 hst. Spesies Glomus sp. 5 menunjukkan peranan yang terbaik terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah yang tercekam Pb, khususnya jumlah daun (35 hst) dibandingkan dengan spesies Glomus yang lain. Pemberian konsorsium FMA dari lokasi yang berbeda menunjukkan respon yang baik pada persen infeksi dimana perlakuan FMA dari Desa Slatri L14 menunjukkan persen infeksi yang tertinggi sebesar 93,33 %. Perlakuan FMA mampu menurunkan kandungan Pb umbi dibandingkan tanpa perlakuan, sampai dengan 83,660 %, serta meningkatkan akumulasi Pb sebagian besar pada akar bawang merah. Uji konsorsium FMA dari 17 lokasi lahan tercemar Pb yang berbeda pada tanaman bawang merah menunjukkan hasil tidak berpengaruh nyata pada variabel berat umbi segar, berat daun segar, berat tanaman segar, total panjang daun dan jumlah daun. 

Hasil isolasi dan identifikasi dari lahan pertanian bawang merah di Kecamatan Larangan dan Wanasari, Kabupaten Brebes, ditemukan 8 spesies jamur non-simbiotik yang teridentifikasi, yaitu Penicillium oxalicum, Trichoderma harzianum, Aspergillus niger, Penicillium dangeardii, Penicillium citrinum, Penicillium sp., Aspergillus terreus dan Dichotomomyces cejpii. Isolat jamur non-simbiotik yang diidentifikasi memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di media dengan konsentrasi Pb tertinggi, seperti ditunjukkan oleh nilai Indeks Toleransi tertinggi dan secara signifikan berbeda dari 7 spesies isolat lain, yaitu Trichoderma harzianum.

Karakteristik agronomi bawang merah dengan aplikasi perlakuan kombinasi fungi non-simbiotik indigenous dan asam humat-fulvat di media tanam tercemar logam berat Pb menunjukkan kombinasi perlakuan terbaik adalah perlakuan tanpa fungi dan asam humat fulvat pada dosis 750 ml/polybag. Penurunan kandungan umbi paling tinggi pada perlakuan fungi Trichoderma harzianumdan 750 ml asam humat-fulvat (500 g. 50 ml-1), yaitu 26,176% dibandingkan dengan perlakuan kontrol.

Kesimpulan umum yang diperoleh adalah Fungi Mikoriza Arbuskula (Glomus sp.5) dan fungi non-simbiotik (Trichoderma harzianum) indigenous lahan bawang merah tercemar Pb berpotensi digunakan untuk menurunkan akumulasi Pb pada umbi bawang merah, dengan penambahan senyawa asam humat-fulvat pada fungi non-simbiotik menunjukkan potensi yang sama untuk menurunkan akumulasi Pb umbi bawang merah.

Kata Kunci
Asam Humat-Fulvat, Bawang Merah, Bioremediasi, Fungi Mikoriza Arbuskula, Fungi Non-Simbiotik, Indigenous, Pb
Pembimbing/Promotor

Pembimbing III

Penguji Internal