Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Laila Andini |B1J012053

Seminar Proposal
Presenter Laila Andini |B1J012053
Waktu Mulai 12 October 2016 - 1:00pm
Waktu Selesai 23 November 2016 - 10:05am
Lokasi Ruang Bio-Lingk
Judul Seminar

Korelasi status reproduksi teritip interti Amphibalanus amphitrite dengan fase lunar periode Desember 2015 - Februari 2016 di perairan Teluk Penyu Cilacap

Pembimbing I Romanus Edy Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Pembimbing II Dra. Gratiana EW, M.Rep.Sc., Ph.D.
Pembimbing III
Penelaah I Dr.rer.nat. Erwin Riyanto Ardli, S.Si., M.Sc.
Penelaah II Drs. Priyo Susatyo, M.Si.
Penelaah III
Sinopsis

Teritip adalah Crustacea dari subkelas Cirripedia, sifatnya sebagai hewan berbuku-buku yang tidak jelas kelihatannya karena tersembunyi dalam cangkangnya yang keras berkapur.Teritip hidup sebagai sessile (menempel pada substrat). Hal tersebut dikarenakan mereka memiliki lem dari kelenjar khusus yang mengandung protein, dimana lem tersebut dapat mengeras dengan cepat di bawah air dan tekanan tinggi. Lem tetap dapat melekat kuat meskipun teritip sudah mati. Mereka sering ditemukan menempel di cangkang kepiting, batu, cangkang penyu, dan dinding perahu. Kerak dari teritip dapat berkembang dengan cepat di dinding kapal. Beberapa spesies teritip bersifat parasit, namun sebagian besar teritip tidak berbahaya. Hal tersebut dikarenakan teritip merupakan feeder filter. Teritip juga tidak mengganggu dan tidak merugikan hewan lain.
Teritip merupakan salah satu kelompok hewan yang paling luaspenyebarannya, yang didapati di perairan pasang dan surut atau laut dangkal. Halini disebabkan oleh cangkang yang keras dan daya tahannya cukup kuat terhadapperubahan lingkungan yang besar sehingga pertumbuhannya lebih cepat.Penempelan danperkembangan teritip sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan antara lainpasang surut, kecerahan, cahaya, pH, salinitas, suhu, arus dan gelombang. Fase Lunar pun dapat mempengaruhi, karena ada hubungan dengan pasang surut pada air laut. Hubungan tersebut dikarenakan adanya gaya gravitasi yang besar disaat bulan purnama tiba karena posisi bulan yang dekat dan sejajar dengan bumi. Adanya gaya gravitasi besar tersebut menyebakan pasang yang besar pula.
Teritip merupakan hewan hermaprodit, tetapi mereka tidak membuahi dirinya sendiri. Mereka juga tidak melepaskan telur dan sperma ke dalam air pada saat bersamaan. Setelah terjadi pembuahan silang, telur akan dierami pada kantung telur yang terdapat dalam rongga mantel.Telur akan menetas menjadi larva naupilus dan akan berenang bebas. Ukurannya sekitar 500 mikron hingga 2mm. Sudut-sudut depan larva terdapat duri seperti tanduk. Larva naupilus memiliki antena dan satu buah mata. Tubuhnya berbentuk seperti perisai dan mengalami molting (pergantian kulit) beberapa kali. Tahap ini, sistem sarafnya mulai berkembang, dan digunakan untuk mendeteksi keberadaan mangsa.
Larva naupilus berkembang menjadi larva cyprid. Tahap ini, larva mulai mencari dan menempel pada substrat yang cocok. Ketika menemukan substrat yang cocok, ia akan mengeluarkan lem dari kelenjar khusus di antenanya untuk menempelkan dirinya sebelum bermetamorfosis ke tahap dewasa. Setelah itu, ia akan membentuk struktur yang keras seperti cangkang mollusca. Larva ini bersifat fototropik negatif atau menjauhi cahaya. Larva ini menjelajahi permukaan substrat dengan merayap. Otak larva cyprid cukup kompleks dan memiliki sistem sensori ganda yang digunakan untuk mendeteksi tempat hidup yang sesuai.Setelah dewasa, tubuhnya bisa mencapai 7 cm. Untuk mencapai tahap dewasa, larva teritip membutuhkan waktu lebih dari enam bulan. Karapaks sudah menyatu dengan tubuhnya, sehingga hanya ada celah untuk jalan keluar masuk tentakel agar tetap bisa makan serta celah untuk penis.
Tujuan           : Tujuandaridilakukannyapenelitianiniadalahuntukmengetahui status reproduksi teritip (Amphibalanus amphitrite)dengan korelasi fase Lunardi PerairanTeluk Penyu, Cilacap.
Metode                       : Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahmetodesurveieksplorasidenganpengambilansampelteritip secarapurposive samplingdariPerairanTeluk Penyuyang melekat di dermaga. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3x, yakni pada bulan Desember 2015, Januari dan Februari tahun 2016. Sampellaludimasukkan kedalam alkohol absolut untuk proses fiksasi. Sampel yang telahdidapatkan, diidentifikasi. Sampel dibedah lalu diamati morfologi dan antominya. Ovarium  teritip diiris dan diamati dibawah mikroskop. Telur dan larva naupli teritip diamati dan dihitung.
Variabel penelitian        : Variabel yang diamati dalam penelitian ini berupa status reproduksi teritip (Amphibalanus amphitrite.
Parameter                    : Parameter yang akan diamati yaitu jumlah larva dan telur, diameter telur, morfologi testis dan larva menggunakan Scanning Electron Microscopy , dan preparat testis.
Metode Analisis    : Data yang diperoleh, dianalisis secara deskriptif yaitu menggambarkan dan menginterpretasikan status reproduksi teritip (Amphibalanus amphitrite).

Halaman ini »