Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Fryta Nur Islami Putri |B1J012101

Seminar Proposal
Presenter Fryta Nur Islami Putri |B1J012101
Waktu Mulai 10 October 2016 - 2:00pm
Waktu Selesai 23 November 2016 - 10:01am
Lokasi Ruang Bio-Lingk
Judul Seminar

Korelasi status reproduksi tritip intertidal Amphibalanus amphitrite dengan salinitas di perairan Teluk Penyu Cilacap

Pembimbing I Romanus Edy Prabowo, S.Si., M.Sc., Ph.D.
Pembimbing II Dra. Gratiana EW, M.Rep.Sc., Ph.D.
Pembimbing III
Penelaah I Dr.rer.nat. Erwin Riyanto Ardli, S.Si., M.Sc.
Penelaah II Drs. Priyo Susatyo, M.Si.
Penelaah III
Sinopsis

Ekosistem laut kaya akan sumber daya hayati, salah satunya adalah biota yang memiliki pola hidup menempel pada substrat. Proses penempelan ini dikenal dengan istilah biofouling (Sabdono, 2007).Biofouling lebih melimpah di perairan yang dangkal dan kelimpahannya menurun dengan bertambahnya kedalaman. Organisme biofouling utama yaitu seperti kerang, bunga karang dan teritip (Fathurrahman, 2014).Teritip merupakan salah satu biota penempel yang sering dijumpai pada berbagai benda atau bangunan di laut dan bersifat menempel permanen pada substrat. Hampir semua benda-benda yang terendam di laut seperti batu, besi, dasar perahu, lunas-lunas kapal serta alat pengukur arus dan benda-benda lainnya yang ditempatkan di dalam air sepanjang pantai, muara dan teluk bisa merupakan substrat yang baik bagi teritip (Tapilatu, 2012).
                                    Teritip adalah crustacea dari subkelas cirripedia yang disebut barnacle dalam bahasa inggris dan merupakan invertebrata yang bersifat sesil (menetap) di laut. Teritip termasuk hewan berbuku-buku yang tidak jelas terlihat karena tersembunyi dalam cangkangnya yang keras berkapur. Teritip memiliki organ tambahan yang disebut pasangan cirri dan berguna untuk menangkap makanan dengan cara menangkap plankton yang terbawa arus kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya (Agustini et al., 2008).
Teritip mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan udara terbuka selama 6-18 jam setiap hari (Nontji, 2005). Apabila air telah surut dan teritip terpapar di udara maka operculumnya menutup rapat setelah cangkang diisi air sebanyak mungkin, dalam kondisi demikian teritip berdiam diri dalam cangkang dan berpuasa untuk sementara. Keadaan terpapar di udara tersebut menyebabkan tekanan lingkungan yang dialami teritip cukup berat, misalnya tertimpa hujan atau tersengat panasnya matahari dan ancaman kekeringan.
Penempelan dan perkembangan teritip dipengaruhi oleh kondisi lingkungan antara lain pasang surut, kecerahan, cahaya, pH, oksigen, salinitas, suhu atau temperatur, arus dan gelombang. Salinitas merupakan parameter lingkungan yang mempengaruhi proses biologi dan secara langsung mempengaruhi laju pertumbuhan, jumlah makanan yang dikonsumsi, dan daya kelangsungan hidup biota air (Effendi, 2000).Salinitas merupakan syarat utama untuk mengetahui massa air laut. Kelimpahan teritip yang rendah biasanya dipengaruhi oleh salinitas yang dapat menimbulkan masalah tekanan osmotik bagi biota penempel seperti teritip (Jefrianto, 2013).
Salinitas berhubungan erat dengan osmoregulasi hewan air, apabila terjadi penurunan salinitas secara mendadak dan dalam kisaran yang cukup besar, maka akan meyulitkan hewan dalam pengaturan osmoregulasi tubuhnya sehingga dapat menyebabkan kematian (Rachmawati et al., 2012). Faktor-faktor yang mempengaruhi salinitas air laut adalah curah hujan, pengaliran air tawar dan penguapan. Musim peralihan I merupakan peralihan dari musim barat ke musim timur yang berlangsung pada bulan Maret sampai dengan bulan Mei, dan dicirikan dengan peningkatan intensitas curah hujan hingga memasuki musim Timur (Juni-Agustus) dimana aliran air tawar akan meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan (Tapilatu, 2012).
                                  Teritip tersebar luas di seluruh perairan, yang didapati di perairan pasang dan surut atau laut dangkal. Hal ini disebabkan oleh cangkangnya yang keras sehingga tahan terhadap perubahan lingkungan yang besar serta perkembangbiakannya yang hermaprodit dapat menyebabkan penyebaran yang sangat luas (Romimohtarto, 1977). Teritip berkembang biak secara hermaprodit seperti kebanyakan binatang penempel lainnya, yaitu memiliki baik organ kelamin jantan maupun kelamin betina. Proses reproduksi biasanya dimulai dengan terbukanya organ reproduksi pada salah satu sisi tubuh dan individu lainnya menempelkan organ reproduksinya dari yang berlawanan tetapi pada sisi yang sama.Teritip melakukan fertilisasi secara internal yang terjadi di dalam rongga tubuh. Telur yang telah dibuahi dieramkan dalam rongga tubuh sampai menjadi larva naupli yang kemudian dicurahkan ke laut sebulan setelah penetasan. Larva naupli berkembang menjadi larva cypris melalui pergantian kulit yang terjadi satu sampai tiga kali dalam seminggu. Cypris kemudian melata dan menetap menjadi teritip muda dan akhirnya membentuk cangkang yang keras (Islami, 2010).
                                    Teritip Amphibalanus amphitrite merupakan organisme eurythermal dan euryhaline, yakni dapat hidup dalam rentang suhu dan salinitas yang tinggi (Ermaitis, 1984). Perairan tropis yang hangat merupakan kondisi yang ideal bagi Amphibalanus amphitrite untuk berkembang. Amphibalanus amphitrite adalah spesies teritip intertidal yang menjadi agen biofouling pada lambung kapal (Jefrianto et al., 2013). Kerugian yang dialami akibat biofouling cukup besar karena dapat menyebabkan dinding lambung kapal menjadi tidak teratur dan kasar yang mengakibatkan penurunan kecepatan daya jelajah kapal (Yudhatama et al., 2013). Selain mengurangi kecepatan, biofouling juga menyebabkan berkurangnya umur kapal karena korosi (Railkin, 2004).Maka, perlu dilakukan penelitian tentang hubungan reproduksi teritip dengan salinitas yang mempengaruhi kelimpahan teritip sehingga dapat dilakukan upaya antibiofouling dengan cara pengecatan pada tempat melekatnya teritip.
Tujuan                    :Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara status reproduksi Teritip Amphibalanus amphitrite dengan salinitas di PerairanTeluk Penyu, Cilacap.
Metode                    :  Metode yang digunakandalampenelitianiniadalahmetodesurveieksplorasidengan teknikpengambilansampelteritip secarapurposive samplingberdasarkan kelimpahan teritip yang melekat di dermaga PerairanTeluk Penyu, Cilacap. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada bulan Maret, April, dan Mei tahun 2016. Teritip yang diambildimasukkan kedalam alkohol absolut untuk proses fiksasi dan kemudian diidentifikasi. Pengamatan morfologi dan anatomi teritip dilakukan dengan cara pembedahan. Ovarium dan testis dipisahkan dari tubuh dan cangkang. Testis diamati morfologinya meggunakan mikroskop, jumlah telur dan larva yang terdapat didalam ovarium diamati menggunakan mikroskop untuk dihitung jumlahnya.
Variabel penelitian: Variabel yang diamati dalam penelitian ini berupa status reproduksi teritip Amphibalanus amphitrite.
Parameter               : Parameter yang akan diamati yaitu jumlah telur, diameter telur, jumlah larva, morfologi larva dan testis.
Metode Analisis      : Data yang diperoleh berupa data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa morfologi telur, morfologi larva, dan histologi testis yang ditampilkan dalam bentuk foto mikrogaf. Data kuantitatif berupa jumlah sel telur, jumlah embrio, jumlah larva dan diameter sel telur yang dianalisis menggunakan ANOVA. Uji BNJ dilanjutkan apabila hasil signifikan. Keterkaitan antara salinitas dan parameter reproduksi meliputi jumlah sel telur, embrio, dan jumlah larva naupli dianalisis menggunakan uji korelasi.
 

Halaman ini »