Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Herping, Wujud Keingintahuan dan KepedulianTerhadap Herpetofauna

Gunung slamet dengan hutan hujantropisnya merupakan rumah bagi berbagai macam flora dan fauna, salah satunya adalah herpetofauna atau hewan-hewan melata yang terdiri dari amfibi dan reptil.Keragaman hayati yang tinggi di daerah Gunung Slamet ini memunculkan keingin tahuan lebih bagi para peneliti. Salah satunya adalah Mahasiswa Biologi Universitas Jenderal Soedirman, terkhusus HimpunanMahasiswa Bio-Explorerdibantu oleh beberapa Mahasiswa Fakultas Biologi Unsoed lainnya yangmelakukan kegiatan pendataan hewan herpetofauna atau yang biasa disebut dengan herping pada hari Senin, 24 April 2017.Dari kegiatan herping tersebut ditemukan 2 spesies katak endemik yang hanya ditemukan di pulau Jawa dimana satudiantaranya masuk kedalam status ”rentan” (Vulnurable) menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources(IUCN).

Wisnu (Kiri) dan Hendy (Kanan) Mahasiswa Fakultas Biologi UNSOED sedang melakukan dokumentasi herpetofauna.

Lokasi pendataan terletak di salah satu desa yang berada pada lereng selatan Gunung Slamet, yaitu Desa Ketenger. Pendataan ini dilakukan untuk menginvetarisasi keragaman herpetofauna sebelum kondisi lingkungan yang masih lestari menjadi rusak akibat pembukaan lahan dan mensukseskan Gerakan Observasi Amfibi Reptil Kita (GO ARK) yang bertujuan melakukan penyusunan atlas herpetofauna Indonesia. Kondisi lingkungan dengan beberapa jenis habitat, seperti persawahan, sungai, kolam, kebun, hingga hutan menjadikan tempat ini sangat strategis untuk dijadikan laboratorium lapangan. Kegiatan dilakukan di malam hari mengingat secara umum herpetofauna adalah hewan nocturnal atau beraktivitas di malam hari. Titik pendataaan adalah lingkungan perumahan warga dan dilanjutkan menuju area persawahan, dilanjutkan menuju kolam, sungai, dan masuk ketepian hutan.

Gambar atas :Kangkong Jeram (Huia masonii) dan gambar bawah : Katak Pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) merupakan katak endemik Jawa.

Dari semua lokasi tersebut, didapatkan sebanyak 14 jenis herpetofauna, dimana didominasi oleh kelompok amfibia. Terdapat dua spesies katak endemik jawa yaitu Katak pohon Jawa (Rhacophorus margaritifer) dan Kangkong jeram(Huia masonii). Katak pohon Jawa atauRhacophorus margaritifer merupakan katak pohon dari family Rhacophoridae ini merupakan salah satu katak endemik Jawa yang tren populasinya sudah mulai stabil setelah sempat masuk dalam kategori “rentan” (vulnurable). Kangkong jeram atau Huia masonii merupakan katak dari famili Ranidae dengan status konservasi saat ini yaitu “rentan” (vulnurable) dengan tren populasi yang terus menurun akibat distribusinya yang terfragmentasi serta berkurangnya luas dan kualitas habitat.

Penelitian secara kontinyu perlu dilakukan baik dalam bentuk pendataan keragaman, persebaran populasi ataupun perikalu spesies oleh kalangan peneliti dan civitas academica khususnya mahasiswa biologisebagai data awal untuk pelestarian herpetofauna khusunya di Gunung Slamet.Gunung Slamet sendiri perlu dijelajah lebih lanjut sebagai lokasi penelitian yang strategis bagi pengamat herpetofauna. Dengan lestarinya gunung slamet maka keberlangsungan hidup herpetofauna di dalamnya akan berjalan.

Bravo F. Biologi Maju Terus Pantang Menyerah  (Hafizh dan Ganjar)

 

Halaman ini »