Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Menanam Pengetahuan

” Siapa  saja yang rajin menanam pengetahuan di pikiran, hasilnya lebih besar dari pada menanam bibit  pertanian di tanah pekarangan biasa.”

Sapa nandur bakal ngunduh, demikian pepatah Jawa mengatakan. Yang artinya, siapa yang menanam bakal memanen. Bagi Pak Tani yang rajin menanam akan memanennya kemudian hari. Semakin luas ladang yang dimiliki Pak Tani semakin banyak hasil panennya. Apalagi ia rajin menanam dan merawatnya.

Namun bagaimana bagi petani miskin  yang ladangnya sangat terbatas? Tentu saja hasilnya terbatas.

Ada ladang yang sangat luas bahkan luasnya sama dengan luasnya alam semesta. Semua orang yang terlahir di muka bumi memilikinya ladang tersebut, yakni ladang pikiran. Ladang ini menurut ilmuwan Emily Dickinson seperti dikutip oleh Taufik Pasiak dalam bukunya, ”Revolusi IQ/EQ/SQ”, mengatakan bahwa pikiran itu lebih luas dari pada lagit dan lebih dalam dari pada lautan. Siapa saja yang serius dan memanfaatkannya ladang ini hidupnya sukses dunia akhirat. Sebagai contoh, seorang petani penggarap –yang tentu saja tidak memiliki ladang sendiri—karena rajin memanfaatkan otak/pikirannya, tekun dan serius belajar bercocok tanam bunga krisan, akhirnya petani yang bernama Wahyudi itu menjadi petani bunga krisan yang sukses (Kompas, 5 Februari, 2011).

Apabila Anda tidak memiliki ladang secara fisik (kebun/tanah pekarangan), maka manfaatkan ladang pikiran yang luasnya nyaris tidak terbatas –dan pasti Anda punya. Hanya bedanya, kalau menanam di ladang fisik berupa tanaman dan bibit-bibit pertanian  tetapi menanam di ladang pikiran itu berupa berbagai bibit pengetahuan, dari informasi, pengetahuan yang sudah teruji kebenarannya (ilmu) hingga pengetahuan yang dapat diaplikasikan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari berupa skill. Ada tanaman pengetahuan yang cepat dapat dipanen seperti keterampilan memasak, keterampilan komputer, ada pula pengetahuan yang relatif lama baru dapat dipanen seperti keterampilan dokter spesialis, advokat, penyanyi, penulis dan para ahli lainnya.

Orang Jawa menyebut ladang/kebun  dengan sebuah kata  pekarangan. Saya kurang begitu ngeh kenapa demikian, mungkin mereka mencoba menyamakan istilah pekarangan dengan karangan (pikiran). Artinya, siapa saja yang rajin menanam pengetahuan dalam pikiran adalah orang yang memiliki banyak karangan (akal dan keterampilan). Pekarangan yang terakhir inilah karangan yang tidak dibatasi luas garapannya, tidak seperti luas pekarangan/ladang seperti yang kita kenal.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang serius dalam memanfaatkan ladang pikiran (karangan). Semakin banyak menanam ilmu pengetahuan di dalam ladang pikiran maka semakin kreatif menciptakan produk dan jasa. Bangsanya pun semakin maju. Bangsa Jepang adalah bangsa yang paling rajin menanam pengetahuan  dengan cara banyak belajar dan banyak membaca. Hasilnya, meski negerinya secara geografis terbatas dan berupa pegunungan tetapi hasil karangan (pikiran) berupa industri otomotif, elektronik dan industri kreatif lainnya, mengusai pasar dunia. Demikian juga Singapura dan Swiss, negeri kecil secara lahan (geografis) tetapi bisa menjadi negera maju karena lebih banyak mengandalkan karangan (pikiran) dari pada tanah pekarangannya yang memang sangat terbatas.

So, jangan khawatir bila Anda termasuk orang yang  tanah pekarangannya tidak luas, masih ada satu karangan (pikiran) yang lebih luas dari pada langit.  Bila anda rajin menanamnya dengan berbagai pengetahuan, suatu saat Anda akan menikmati hasilnya. Dan saat ini,di era internet,  untuk menanam pengetahuan bukanlah hal yang sulit. Yang sulit adalah membiasakan diri menanam pengetahuan kapan dan di mana saja.

Saya sendiri karena menyadari bahwa tanah pekarangan warisan dari orang tua di kampung sangat terbatas dan kurang memiliki nilai jual, maka sejak saya mengenal baca tulis saya ”rajin” menanam pengetahuan meski hanya dengan membaca koran dan majalah bekas bungkus barang yang dibawa Ibu saya dari pasar tradisional. Kebiasaan menanam (membaca) itu saya pupuk dan pelihara hingga sampai saat ini. Alhamdulillah, berkat menanam pengetahuan, saya sempat mendapatkan beasiswa ke Inggris dan Australia. Buahnya, bisa saya nikmati dan saya bagi kepada siapa saja yang membutuhkannya melalui  buku-buku yang saya tulis, menjadi pembicara, trainer dan karyawan. Benar sekali, siapa  saja yang rajin menanam pengetahuan di pikiran, hasilnya lebih besar dari pada menanam bibit  pertanian di tanah pekarangan biasa.

 

Halaman ini »