Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Sindrom Kentang Gosong

Saya 1 (satu) tahun jobless (menganggur) , keluar kerja karena sakit. Sekarang saya harus memulai lagi dari bawah. Jika melihat teman yang sudah sukses, bukannya tambah semangat tapi malah merasa bodoh, teringat kegagalan masa lalu. Bagaimana cara mengatasinya? Demikian seorang pecinta rubrik saya di salah satu harian lokal bertanya melalui  SMS.

Menyimak pertanyaan tersebut, saya menjadi teringat dengan sebuah cerita tentang “sindrom ketang gosong”. Kita tentunya sering mendengar sebuah kisah yang intinya demi orang lain kita mengalah dan bahkan meremehkan diri sendiri. Cerita “sindrom kentang gosong” biasanya terjadi pada diri seorang koki  di sebuah restoran.

Seorang koki restoran dalam menggoreng kentang terkadang mendapati kegosongan. Kentang-kentang gosong tersebut tidak mungkin akan disajikan untuk pelanggannya. Biasanya, disimpan untuk konsumsi dirinya dan mungkin teman-temannya. Pelanggan adalah raja.

Ini tidak berarti setiap koki restoran identik dengan manusia kelas dua yang selalu memandang orang lain lebih hebat, tetapi itu merupakan salah satu strategi bisnis yang tidak bisa dihindari. Namun perlu dicatat bahwa kebiasaan selalu mengunggulkan orang lain lebih hebat, sementara dirinya merasa bodoh bukanlah kebiasaan positif yang dapat menjadikan dirinya berubah.

Ada kencenderungan kelompok orang yang mengidap “sindrom kentang gosong” yakni  tidak pernah mengambil potongan kentang terbaik (tidak gosong) untuk diri mereka sendiri. Tidak juga membaginya pada orang lain. “Bila ada orang yang pantas memperoleh kentang gosong, dirinyalah  orang yang paling tepat,” pikir mereka (situs www.indoNLP/com). Kongkritnya, kelompok ini memiliki keyakinan salah “Kalau ada orang yang pantas gagal dunia ini, maka sayalah yang pantas”, pikirnya.

Pikiran akan bekerja sesuai dengan program yang dibuat oleh pemiliknya. Seseorang yang terkena “sindrom kentang gosong” telah membuat sebuah program kuat namun keliru dalam pikirannya (yang celakanya ia menyakininya bahwa itu benar adanya).

Apabila demikian halnya, maka pikiran terus bekerja dan terus “membenarkan” bahwa dirinya pantas bodoh/gagal. Begitu ia melihat orang lain yang sukses, semua sel syaraf segera bekerja, mencari sejumlah fakta, sejumlah pengalaman yang mengukuhkan bahwa dirinya adalah manusia tidak pantas sukses.

Semakin sering melihat dan mendengar orang lain yang sukses, semakin kuat bayangan dirinya akan kegagalan. Apabila sindrom itu lama bersemayam di alam pikirannya, dan pemiliknya tidak ada hasrat untuk membuangnya, maka sindrom itu terus muncul setiap saat. Dalam kasus tertentu, sindrom ini (bila melihat temanya berhasil) bisa bisa mengakibatkan sakit  perut mulas, pusing, dan bahkan mejadi depresi.

Yang perlu diperhatikan bagi setiap pengidap sindrom “kentang gosong” ini adalah, bahwa “apa yang dibayangkan” adalah “bukan sebenarnya”. Itu hanya persepsi saja. Apa yang Anda pikirkan adalah baru merupakan “peta” bukan “medan”. Atau apa yang dipikirkan bukanlah kejadian sesungguhnya.

Namun celakanya, kebanyakan dari pengidap ini menganggap bahwa apa yang dibayangkan (dipikirkan) dianggap sebagai kenyataan. Bayangan bukanlah kenyataan itu sendiri. Bayangan kegagalan masa lalu dan bahkan bayangan masa depan, itu hanya cara pikiran bekerja saja. Hanya peta pikiran itu sendiri. Hanya dunia pikiran saja, bukan dunia nyata.

Celakanya, kita sering mempercayainya bahwa semua bayangan itu adalah nyata. Akibatnya, ketika Anda membayangkan sebuah kegagalan  langsung menerimanya sebagai kenyataan. Bayangan/pikiran bukanlah kenyataan itu sendiri.

Bagaimana caranya merubah pikiran yang keliru seperti itu? Karena sebuah peta bukanlah medan, atau dunia pikiran bukanlah dunia nyata, maka yakinkan bahwa apa yang Anda bayangkan sesungguhnya merupakan hal yang keliru. Sepanjang Anda meyakini bahwa apa yang dipikirkan (tentang kegagalan masa lalu) adalah hal yang dianggap benar, dianggap nyata maka sulit untuk merubah pikiran yang keliru itu tadi.

Karena pikiran itu adalah peta, maka di dalamnya masih ada “ruang-ruang” kosong yang siap diisi oleh pemiliknya. Kalau selama ini diisi dengan bayangan/pikiran kegagalan dan Anda mau menerimanya, sekarang ganti dan isi saja dengan bayangan/pikiran keberhasilan.

Pikiran itu ibarat ladang yang siap ditanami apa saja. Anda adalah tukang kebun/petaninya. Petani yang bijak tidak akan menanam tanaman yang tidak ada manfaatnya. Apa lagi membiarkan seperti semak belukar. Tanam dan pilih tanaman yang bekualitas.

Perubahan pola pikir hanya membutuhkan satu syarat saja, yakni keberanian. Kalau selama ini Anda hanya makan kentang gosong, maka saatnya Anda harus berani imencoba “kentang yang tidak gosong”. Ternyata “kentang yang tidak gosong” itu jauh lebih nikmat. Dan setiap orang berhak untuk mencobanya. Kalau selama ini Anda membiarkan ladang (pikiran)  ditumbuhi oleh semak belukar, maka saatnya sekarang menanam buah-buahan yang segar dan bermutu tinggi.  Siapa menanam bakal menuainya kelak.

Jadilah manajer pikiran yang bijak. Jadilah tukang kebun yang profesional.

Halaman ini »