Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Kelimpahan Mikroalga Bentik yang Berpotensi sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel) di Perairan Sungai Pekacangan yang terkena Limbah Cair Tapioka di Kabupaten Purbalingga

JudulKelimpahan Mikroalga Bentik yang Berpotensi sebagai Bahan Bakar Nabati (Biofuel) di Perairan Sungai Pekacangan yang terkena Limbah Cair Tapioka di Kabupaten Purbalingga
Publication TypeStudent Thesis
Year of Publication2015
AuthorsCahyanti W
AdvisorsChristiani, Widyartini DS
Academic DepartmentFakultas Biologi
DegreeS1
Date Published03/2015
UniversityUniversitas Jenderal Soedirman
CityPurwokerto
Thesis TypeSkripsi
KeywordsAbundance of Benthic Microalgae, biofuel, Kelimpahan Mikroalga Bentik, Limbah cair tapioka dan Sungai Pekacangan, Tapioca liquid waste and Pekacangan River
Abstract

Mikroalga selain berperan sebagai produsen primerjuga memiliki potensi untuk menghasilkan biofuel. Pertumbuhannya yang cepat, kemampuan untuk menghasilkan minyak alami (lipid) yang besar dengan sedikit polusi dibandingkan bahan bakar petroleum menjadikan salah satu alternatif bahan bakar nabati yang dapat diperbaharui (renewable resources). Mikroalga banyak dijumpai di perairan sungai, Sungai Pekacangan Purbalingga merupakan badan airyang digunakan untuk aktivitas mandi, cuci, perikanan, tambang pasir dan juga dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan limbah cair dari industri tapioka. Limbah cair tapioka merupakan jenis limbah organik yang telah mengalami proses penguraian oleh bakteri dan merupakan nutrien yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroalga.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan mikroalga di Sungai Pekacangan yang terkena limbah cair industri tapioka dan menentukan jenis mikroalga yang berpotensi sebagai bahan bakar nabati (biofuel). Penelitian ini menggunakanmetode survai dengan teknik pengambilan sampel secara purposive samplingberdasarkanrona lingkungan yang ada, yaitu stasiun I lingkungan sebelum pembuangan limbah cair tapioka, stasiun II tepat pembungan limbah cair tapioka, stasiun III 1 km setelah  pembuangan limbah cair tapioka dan stasiun IV 2 km setelah pembuangan limbah cair tapioka. Sebagai parameter utama adalah jumlah jenis dan jumlah individu mikroalga, sedangkan parameter pendukung penelitian adalah suhu, penetrasi cahaya, pH, O2 terlarut, BOD5, kecepatan arus, TSS, TDS, nitrat, ortofosfat dan silika. Kelimpahan mikroalga bentik yang diamati dianalisis secara deskriptif dan mikroalga yang diperoleh pada stasiun yang tepat terkena limbah dianalisis dengan melakukan skrining untuk mengetahui kandungan minyak.
Hasil kelimpahan mikroalga bentik di Sungai Pekacangan yang terkena limbah cair tapioka memiliki kelimpahan yang rendah dibandingkan dengan sebelum pembuangan dan setelah pembuangan limbah cair tapioka dan hasil skrining yang dilakukan pada stasiun yang tepat terkena limbah cair tapiokadan 29 isolat mikroalga, diperoleh 14 isolat yang berpotensi sebagai biofuel, yaitu Navicula sp., Amphora libyca, Stauroneis anceps, Tabellaria flocculosa, Chlamydomonas sp., Closterium sp., Ulothrix sp., Anabaena sp., Synechococcus sp., Planctonema sp., Cymbella sp.,Cymbella lanceolata, Chilomonas, dan Euglena tripteris.
 
Beside having a function as primary producers, microalgae also has potential ability to produce biofuel. With rapid growth, its ability to produce natural oils (lipids) with less pollution than of petroleum fuels make it one of alternative renewable biofuel (renewable resources). Microalgae is often found in the river, Pekacangan River in Purbalingga is one of water resources that in addition to bathing, washing, fishing, sand mining by local villagers is also used as a liquid waste disposal area of starch. Industry tapioca liquid waste is a type of organic waste which has undergone a process of decomposition by bacteria and that is necessary as nutrient for the growth of microalgae.
The purpose of this study was to determine the abundance of microalgae in Pekacangan River which is contaminated by tapioca’s industrial liquid waste and determine the type of microalgae which is potential as biofuels. This study used a survey method with purposive sampling technique based on the environmental setting, i.e. I station before contamination by tapioca liquid waste, II station contaminated by tapioca liquid waste, III station 1 km after contamination by tapioca liquid waste and IV station 2 km after contamination by tapioca liquid waste. As the main parameter were total number of species and total number of individuals microalgae, while research parameters were temperature, light penetration, pH, dissolved O2, BOD5, flow velocity, TSS, TDS, nitrate, orthophosphate and silica. Abundance of benthic microalgae which observed was analyzed descriptively and microalgae that obtained at the appropriate stations affected by the waste was analyzed by screening to determine the oil content.
Abundance result of benthic in the affected Pekacangan River tapioca liquid waste has a low abundance compared to before and after the disposal of liquid waste disposal tapioca and screening results performed on the affected station right tapioca liquid waste and screening results which performed on the contaminated by tapioca liquid waste and of 29 microalgae’s isolates, 14 isolates were potential as a biofuel, namely Navicula sp., Amphora libyca, Stauroneis anceps, Tabellaria flocculosa, Chlamydomonas sp., Closterium sp., Ulothrix sp., Anabaena sp., Synechococcus sp., Planctonema sp., Cymbella sp., Cymbella lanceolata, Chilomonas, and Euglena tripteris.

 

SisipanUkuran
B1J010173-1.pdf91.83 KB
B1J010173-2.pdf684.07 KB
B1J010173-3.pdf751.01 KB
B1J010173-4.pdf243.01 KB
B1J010173-5.pdf242.92 KB
B1J010173-6.pdf242.16 KB
B1J010173-7.pdf241.62 KB
B1J010173-8.pdf242.48 KB
B1J010173-9.pdf245.87 KB
B1J010173-10.pdf254.02 KB
B1J010173-11.pdf250.24 KB
B1J010173-12.pdf262.93 KB
B1J010173-13.pdf292.74 KB
B1J010173-14.pdf245.04 KB
B1J010173-15.pdf265.27 KB
B1J010173-16.pdf271.79 KB
B1J010173-17.pdf1.2 MB