Fakultas Biologi

Change Font Size

Change Screen

Change Layouts

Change Menu Styles

Cpanel

Biodiversitas Teritip Intertidal (Cirripedia: Balanomorpha) di Pantai-Pantai Propinsi Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Barat

JudulBiodiversitas Teritip Intertidal (Cirripedia: Balanomorpha) di Pantai-Pantai Propinsi Lampung, Bengkulu, dan Sumatra Barat
Publication TypeConference Paper
Year of Publication2011
AuthorsPrabowo RE, Ardli ER, Sulistiono, Wijayanti H
Conference NameKongres dan Seminar Masyarakat Taksonomi Kelautan Indonesia I
Abstract

Biodiversitas teritip telah dikaji dari beberapa lokasi di Pulau Sumatra yaitu di Propinsi Lampung (Bakauhuni, Kalianda, Teluk Suak, Bandar Lampung, dan Selat Semaka), Propinsi Bengkulu (Kota Bengkulu dan Pelabuhan Pulau Bai), dan Propinsi Sumatra Barat (Kota Padang, Pelabuhan Teluk Bayur, Pelabuhan Teluk Bungus dan Pulau Sipora Kepulauan Mentawai). Secara keseluruhan ditemukan 19 spesies, namun demikian secara umum ketiga propinsi tersebut mempunyai diversitas teritip yang sangat rendah dibandingkan biodiveritas teritip Indonesia secara umum. Hanya Pelabuhan Bakauhuni Lampung yang mempunyai biodiversitas teritip tertinggi yaitu lebih dari 14 spesies. Kecuali lingkungan pelabuhan yang rata-rata mempunyai diversitas lebih tinggi, keseluruhan pantai ketiga propinsi tersebut mempunyai topologi pantai yang sama yaitu pantai berpasir dangkal dengan ombak yang relatif lemah, suatu kondisi yang kurang mendukung setlement larva teritip. Sehingga diversitas teritip rata-rata dari ketiga propinsi tersebut adalah 2 spesies pada tiap lokasinya yang didominasi oleh Chthamalus malayensis.
 
Barnacles have been recorded from several localities, i.e.; Province of Lampung (Bakauhuni, Kalianda, Gulf of Suak, Bandar Lampung, dan Semaka Strait), Province of Bengkulu (City of Bengkulu dan Port of Pulau Bai), and Province of West Sumatra (City of Padang, Port of Teluk Bayur, Port of Teluk Bungus and Sipora Island of Mentawai Isles). Overall there were 19 species recorded, but generally all those provinces have low barnacle diversity compared to global Indonesian barnacle biodiversity. A relatively high barnacle diversity has beed recorded from Port of Bakauhuni comprises of 14 spesies. With an exception for port and harbour areas, most shorelines having low barnacle diversity due to uniformity in coastal topology, which is sandy shallow beach with low waves action, a condition which is not suitable for new setlement of barnacle larvae. Along the shore of those three provinces mostly occupied by one or two spesies and dominated by Chthamalus malayensis.